Loading...

Selasa, 19 April 2011

Perjalanan Penuh Harapan


Semua terasa baru saat diriku mulai menapakkan kaki untuk yang pertama kalinya di tanah orang. Semua itu kulakukan untuk menapaki profesiku yang selama ini ku impikan dan siap berhadapan dengan masyarakat langsung.
Namun, semua sungguh sangat terasa baru dan butuh penyesuaian diri terhadap semua itu. Satu hal yang dapat aku pelajari dari semua ini, semua memang perlu proses dan pembelajaran, dan aku harus selalu tegar dan tak hentinya belajar dalam menghadapi kehidupan baru ku ini....life must go on....

Minggu, 18 Juli 2010

Foto-foto masa kecil ku

Kenangan masa kecil yang tak pernah ku lupakan dan tak kan pernah terulang tuk yang kedua kalinya........kecuali.......
Kata ibuku......aku dulu pemegang juara balita sehat.....(hehehe...tapi hanya tingkat kecamatan..)..yahh, tapi tak mengapa lah..yang penting sudah bisa sesuai dengan program pemerintah saat itu (zamannya Presiden Soeharto)...bayi sehat negara kuat....hehehe....

Nah....yang satu ini kata orang aku mau digigit sapi....(eh..emang sapi bisa menggigit..???)
Padahal, ini merupakan salah satu contoh kedekatan hubungan antara sesama ciptaan Allah...itu...bina hubungan saling percaya...eh, bukan..bina hubungan yang baik antara manusia dengan lingkungan (sesama makhluk hidup)....

Baju ini merupakan baju yang paling keren di masa anak-anak dulu dan merupakan film anak yang lagi booming2nya di zamannya....(zaman apaan tuhhh....???) Klo dulu anak-anak pada kenalnya ama "Kura-Kura Ninja". Klo sekarang sih sudah tambah keren lagi.....itu-tuhh...TMNT...pasti udah tau smua. Klo sekarang sih, lagi favoritnya ama Harry Potter.

Tetap exist..dimana pun dan kapanpun berada....saaaampai sekarang....heheh...

Segala sesuatu itu perlu proses..dan dengan proses tersebut seseorang akan menjadi lebih tau tentang apa artinya perjuangan hidup demi mencapai sesuatu yang dicita-citakan...life must go on....OKE.........!!!!!!!!!

Sabtu, 17 Juli 2010

Stage Manajemen

LAPORAN PRAKTIK PEMBELAJARAN
TAHAP PROFESI (NERS) STASE MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG PERAWATAN INTENSIVE RSUD ULIN BANJARMASIN













Di Susun Oleh :
KELOMPOK I
1. Agus Jamili Jain, S.Kep
2. Rahman Hakim, S.Kep
3. Anita Mayasanti, S.Kep
4. Gina Hernita, S.Kep
5. Ismirani, S.Kep
6. Sri Rahayu, S.Kep
7. Yunida Atikah, S.Kep








SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
PROGRAM PROFESI NERS S1 KEPERAWATAN
2010


KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya jualah kami dapat menyelesaikan laporan kegiatan ”Praktik Manajemen Keperawatan di Ruang Perawatan Intensive RSUD Ulin Banjarmasin” sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Laporan ini merupakan salah satu syarat dalam kegiatan praktek Manajemen Keperawatan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Tahap Profesi Ners. Laporan ini berisi tentang data-data dari hasil pengamatan/observasi tentang pelaksanaan proses manajemen keperawatan yang dilaksanakan di ruang perawatan intensive RSUD Ulin Banjarmasin.
Atas segala bimbingan dan bantuan yang diberikan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. Bapak La Ode Jumadi Gafar, SKp, Ners, MBA, MPH selaku ketua STIKES Muhammadiyah Banjarmasin
2. Ibu Dewi Norhanifah, S.Kep, Ners selaku kepala bagian profesi Ners STIKES Muhammadiyah Banjarmasin
3. Ibu Evy Noor Hasanah, S.Kep, Ners selaku koordinator stase manajemen keperawatan dan selaku Clinical Teacher praktek manajemen keperawatan dalam membimbing dan memberikan ilmu manajemen pada kelompok.
4. Bapak M. Syafwani, SKp, M.Kep, Sp.Jiwa selaku Clinical Teacher praktik manajemen keperawatan dalam membimbing dan memberikan ilmu manajemen pada kelompok.
5. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa STIKES Muhammadiyah Banjarmasin Ners A untuk melakukan tahap profesi di RSUD Ulin Banjarmasin.
6. Bapak H. Imannuddin, S.Kep, Ns selaku Clinical Instruktural yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada kami mahasiswa Ners A
7. Bapak Miliyan Jamil, S.Kep, yang telah mengijinkan dan memberikan bimbingan dan masukan kepada kelompok selama berpraktik di ruang perawatan intensive
8. Semua staf ruangan yang berkenan mau membantu kelompok dalam Stase Manajemen Keperawatan dan memberikan masukan-masukan kepada kelompok
9. Teman-teman mahasiswa STIKES Muhammadiyah Banjarmasin Ners A angkatan III dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dorongan dalm menyelesaikan tahap profesi ini.

Akhirnya, semoga bimbingan dan bantuan yang diberikan kepada kami dicatat sebagai amal baik oleh Allah SWT. Namun, demikian kelompok menyadari laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, demi kesempurnaan kelompok mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak dan juga menambah wawasan kelompok di masa mendatang. Kelompok berharap laporan ini bermanfaat bagi pembaca.


Banjarmasin, Juli 2010



Kelompok I
Praktik Manajemen Keperawatan
Di Ruang Perawatan Intensive
RSUD Ulin Banjaramasin

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. STRATEGI PELAKSANAAN
C. TUJUAN
D. PRAKTIKAN

BAB II HASIL PENGKAJIAN
A. Profil/Gambaran Umum Ruang Perawatan Intensive
B. Unsur Input/Masukan
C. Unsur Proses
D. Unsur Output/Keluaran
E. Kajian Teoritis
F. Analisa Data

BAB III PERMASALAHAN DAN RENCANA KEGIATAN
A. Permasalahan
B. Perencanaan Pemecahan Masalah

DAFTAR PUSTAKA








..............Informasi selengkapnya, hubungan yang empunya.......key



















Senin, 05 Juli 2010

Proposal TAKS Jiwa

PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS)
DI RUANG JATI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM










Disusun Oleh :
AGUS JAMILI JAIN










SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
PROGRAM PROFESI NERS S1 KEPERAWATAN
2010

LEMBAR PERSETUJUAN
PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS)



Kegiatan : Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS)
Tempat Kegiatan : Ruang Jati Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin
Hari,Tanggal : Sabtu, 3 Juli 2010
Waktu : 10.00 WITA
Pelaksana : Agus Jamili Jain (Mahasiswa STIKES Muhammadiyah
Banjarmasin Program Profesi Ners S1 Keperawatan)




Banjarmasin, 3 Juli 2010



Menyetujui,


















PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS)


A. DESKRIPSI
Manusia adalah makhluk sosial yang terus menerus membutuhkan orang lain disekitarnya. Salah satu kebutuhan sosial untuk melakukan interaksi sesama manusia. Kebutuhan sosial yang dimaksud adalah rasa dimiliki oleh orang lain, pengakuan dari orang lain,penghargaan orang lain, serta pernyataan diri. Interaksi yang dilakukan tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dalam mengatasi gangguan interaksi pada klien jiwa, terapi aktivitas kelompok sering diperlukan dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa karena merupakan keterampilan therapeutik. Terapi aktivitas kelompok merupakan bagian dari terapi modalitas yang berupaya meningkatkan psikoterapi dengan sejumlah klien dalam waktu yang bersamaan.
Ada dua tujuan umum dari terapi aktivitas kelompokini yaitu tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif. Tujuan terapeutik meliputi:
1. Menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi
2. Mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien)
3. Meningkatkan stimulus realitas dan respon individu
4. Memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektik
5. Meningkatkan rasa dimiliki
6. Meningkatkan rasa percaya diri
7. Belajar cara baru dalam menyelesaikan masalah
Adapun tujuan rehabilitatif meliputi:
1. Meningkatkan kemampuan untuk ekpresi diri
2. Meningkatkan kemampuan empati
3. Meningkatkan keterampilan sosial
4. Meningkatkan pola penyelesaian masalah.
Beberapa aspek dari klien yang harus diperhatikan dalam penjaringan klien yang akan diberikan aktivitas kelompok adalah :
1. Aspek Emosi
Gelisah, curiga, merasa tidak berguna, tidak dicintai, tidak dihargai, tidak diperhatikan, merasa disisihkan, merasa terpencil, klien merasakan takut dan cemas, menyendiri, menhindari dari orang lain.

2. Aspek Intelektual
Klien tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, jika ditanya klien menjawab seperlunya, jawaban klien sesuai dengan pertanyaan perawat.
3. Aspek Sosial
Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien mengatakan bersedia mengikuti terapi aktivitas, klien mau berinteraksi minimal dengan satu perawat lain ke satu klien lain.
Terapi aktivitas kelompok sosialisasi merupakan sebagian dari terapi aktivitas kelompok yang bisa dilaksanakan dalam praktek keperawatan jiwa. Terapi ini diharapkan dapat memacu klien untuk melakukan hubungan interpersonal yang adekuat dan mengidentifikasi secara benar stimuluspersepsi ekternal.

B. MASALAH KEPERAWATAN
Terapi aktivitas kelompok sosialisasi ditujukan pada klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial, halusinasi.

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok dan motivasi proses pikir dan efektik.
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu menyebutkan identitas dirinya
b. Klien mampu menyebutkan identitas klien lain
c. Klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
d. Klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan
e. Klien mampu menterjemahkan perintah sesuai dengan permainan
f. Klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditetapkan
g. Klien mampu mengemukakan pendapat mengenai terapi aktivitas kelompok yang dilakukan

D. MANFAAT
1. Klien dapat belajar cara mengenal diri sendiri dan orang lain
2. Klien belajar untuk bekerjasama dalam suatu kegiatan
3. Klien belajar untuk mengeksperisikan diri lewat permainan yang dilakukan
4. Klien dapat belajar mengemukakan pendapat mengenai suatu kegiatan


E. PERSIAPAN
1. Analisa situasi meliputi: waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat, alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan
2. Uraian tugas perawat (terapis)
a. Leader bertugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk menetapkan tujuan dan membuat peraturan.
b. Co-leader bertugas mendiskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok untuk berkembang dan bergerak secara dinamis.
c. Fasilitator bertugas memberikan stimulus dan motivasi kepada klien yang kurang ataupun tidak aktif terlibat dalam terapi aktivitas kelompok serta menjadi contoh bagi klien lain selama proses kegiatan terapi aktivitas kelompok.
d. Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas terapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai).
3. Proses seleksi
a. Berdasarkan observasi perilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat
b. Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai perilaku klien sehari-hari serta kemungknan dilakukan terapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan
c. Melakukan kontrak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan
4. Program antisipasi masalah
Suatu intervensi keperawatn yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksaan kegiatan terapi aktivitas kelompok.

F. KEGIATAN
1. Perkenalan
Kelompok memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh leader. Leaer menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.
2. Kegiatan
Klien menyebutkan identitas dirinya dan melakukan perkenalan dengan pasangan, melakukan perkenalan di depan kelompok, serta melakukan perintah permainan.

3. Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya tentang kegiatan.
4. Terminasi/Penutup
Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan kembali tujuan dan manfaat kegiatan.

G. KRITERIA EVALUASI
Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang direncanakan :
1. 80% klien mendapatkan pasangan yang tepat
2. 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas dirinya
3. 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas klien lain
4. 80% dari jumlah klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
5. 70% dari jumlah klien mampu menterjemahkan perintah permainan
6. 70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditentukan
7. 50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang terapi aktifitas kelompok yang dilakukan

H. RENCANA PELAKSANAAN
1. Kriteria klien yang mengikuti TAKS di ruang Jati Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin adalah klien dengan isolasi sosial yang sudah mulai berinteraksi dengan beberapa klien lain
2. Peserta : pasien yang ada di ruang Jati
3. Masalah Keperawatan: isolasi sosial, halusinasi
4. Persiapan
a. Analisa Situasi
1) Waktu Pelaksanaan
a) Hari/ Tanggal : Sabtu, 3 Juli 2010
b) Waktu : 10.00 WITA
c) Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10menit)
Permainan (20 menit)
Ekprees Feeling (10menit)
Penutup (5 menit)
2) Jumlah Perawat
a) Mahasiswa : 7 orang

3) Pembagian Tugas
a) Leader : Agus Jamili Jain
b) Co-Leader : Gina Hernita
Yunida Atikah
c) Fasilitator : Sri Rahayu
Rahman Hakim
d) Observer : Anita Mayasanti
Ismirani
4) Alat Bantu
a) Tape Recorder/Music HP
b) Bola kecil
c) Buku catatan dan pulpen

b. Proses Pelaksanaan
1) Persiapan
a) Memilih klien sesuai kriteria yang telah ditetapkan
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
c) Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas dan duduk membentuk lingkaran
2) Orientasi
a) Salam terapeutik
Perawat memperkenalkan diri dimulai dari leader dengan menyebut nama lengkap, nama panggilan, asal daerah/alamat dan hobi.
b) Orientasi/validasi
 Menanyakan perasaan klien
 Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih dulu menunjukkan tangannya.
c) Kontrak
 Menjelaskan tujuan kegiatan
 Menjelaskan aturan main, yaitu :
• Masing-masing menyebutkan identitas diri
• Bila klien ingin keluar untuk minum, BAB/BAK harus minta ijin pada perawat.
• Lama kegiatan 45 menit
• Setiap klien mengikuti dari awal sampai akhir.
3) Tahap Kerja
a) Leader menjelaskan kegiatan yaitu tape recorder akan dihidupkan dan bola diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam (yaitu kearah kiri) dan pada saat tape recorder dimatikan maka anggota kelompok yang memegang bola harus menyebutkan identitas dirinya (nama lengkap, nama panggilan, asal daerah/alamat dan hobi)
b) Co-Leader membantu leader dalam memberikan contoh tentang kegiatan tindakan yang dijelaskan oleh leader.
c) Fasilitator menghidupkan tape recorder dan leader mengedarkan bola berlawanan dengan jarum jam (arah kiri).
d) Pada saat tape recorder dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapatkan giliran untuk menyebutkan identitas dirinya (nama lengkap, nama panggilan, asal daerah/ alamat dan hobi), dimulai dari perawat sebagai contoh.
e) Tulis nama panggilan pada kertas atau name tag dan tempel atau pakai
f) Ulangi kegiatan sampai semua anggota kelompok mendapat giliran
g) Setiap selesai peserta melaksanakan tugasnya maka beri reward/ tepuk tangan dengan memberi tepuk tangan.
h) Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara.
4) Peer Review (evaluasi kelompok)
a) Klien dapat memperkenalkan dirinya danorang lain
b) Klien dapat mengikuti kegiatan dengan baik
c) Klien menemukakan pendapat tentang kegiatan ini
5) Terminasi
a) Orientasi/validasi
 Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
 Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b) Rencana tindak lanjut
 Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih berkenalan dengn orang lain pada kehidupan sehari-hari.
c) Kontrak
 Menyepakati kegiatan berikut yaitu mengenali identitas anggota kelompok
 Waktu dan tempat
5. Antisipasi Masalah
a. Penanganan Klien yang tidak aktif saat aktivitas kelompok
1) Memanggil klien
2) Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab sapaan perawat atau klien yang lain
b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :
1) Panggil nama klien
2) Tanya alasan klien meninggalkan permainan
3) Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi
c. Bila ada klien lain ingin ikut
1) Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditunjukkan pada klien yang telah dipilih
2) Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut
3) Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk untuk masuk dengan tidak memberi peran pada permainan tersebut.



























DAFTAR RUJUKAN



Gail wiscart stuart, Sandra J. Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: EGC.
Keliat, Budi Anna. 1999. Keperawatan Jiwa Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta: EGC
Sholikin, 2006. Materi kuliah Terapi Aktifitas Kelompok. STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Selasa, 29 Juni 2010

Kumpulan SP (Strategi Pelaksanaan) Jiwa

Berikut ini merupakan kumpulan dari SP yang dapat diberikan pada pasien dengan berbagai masalah pada keperawatan Jiwa, diantaranya sebagai berikut:

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) WAHAM

ASUHAN KEPERAWATAN WAHAM

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Membantu orientasi realita

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya.

3.

Membantu pasien memenuhi kebutuhannya

Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham

4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan waham

2.

Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien waham

3.

Melatih kemampuan yang dimliki



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



STRATEGI PELAKSANAAN (SP) RESIKO BUNUH DIRI

ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO BUNUH DIRI

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala resiko bunuh diri, dan jenis perilaku bunuh diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya.

3.

Melakukan kontrak treatment

Menjelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri

4.

Mengajarkan cara-cara mengendalikan dorongan bunuh diri


5.

Melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri



SPIIP

SPIIk

1.

Mengidentifikasi aspek positif pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan resiko bunuh diri

2.

Mendorong pasien untuk berpikir positif tentang diri

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien resiko bunuh diri

3.

Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang berharga



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Menilai pola koping yang biasa dilakukan

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif


4.

Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif


5.

Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan harian



SPIVP


1.

Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien


2.

Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis


3.

Memberi dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka meraih masa depan yang realistis


4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian


STRATEGI PELAKSANAAN (SP) DEFISIT PERAWATAN DIRI

ASUHAN KEPERAWATAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Menjelaskan pentingnya kebersihan diri

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala defisit perawatan diri, dan jenis defisit perawatan diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya.

3.

Membantu pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri

Menjelaskan cara-cara merawat pasien defisit perawatan diri

4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri

2.

Menjelaskan cara makan yang baik

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien defisit perawatan diri

3.

Membantu pasien mempraktekkan cara makan yang baik


4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Menjelaskan cara eliminasi yang baik

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Membantu pasien mempraktekkan cara eliminasi yang baik


4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



SPIVP


1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2.

Menjelaskan cara berdandan


3.

Membantu pasien mempraktekkan cara berdandan


4.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian


STRATEGI PELAKSANAAN (SP) PK

ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN ( PK )

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Mengidentifikasi penyebab PK

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Mengidentifikasi tanda dan gejala PK

Menjelaskan pengertian PK, tanda dan gejala, serta proses terjadinya PK

3.

Mengidentifikasi PK yang dilakukan

Menjelaskan cara merawat pasien PK

4.

Mengidentifikasi akibat PK


5.

Menyebutkan cara mengontrol PK


6.

Membantu pasien mempraktekkan latihan cara mengontrol PK secara fisik 1


7.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK

2.

Melatih pasien mengontrol PK dengan cara fisik 2

Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK

3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Melatih pasien mengontrol PK dengan cara verbal

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian



SPIVP


1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2.

Melatih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual


3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian



SPVP


1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2.

Melatih pasien mengontrol PK dengan minum obat


3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian


STRATEGI PELAKSANAA (SP) ISOLASI SOSIAL

ASUHAN KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya.

3.

Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain

Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial

4.

Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang


5.

Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial

2.

Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial

3.

Membantu pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian


STRATEGI PELAKSANAAN (SP) HDR

ASUHAN KEPERAWATAN HARGA DIRI RENDAH

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat digunakan

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya.

3.

Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan pasien

Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial

4.

Melatih pasien sesuai kemampuan yang dipilih


5.

Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien


6.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan harga diri rendah

2.

Melatih kemampuan kedua

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien harga diri rendah

3.

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian




SPIIIk

1.


Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.


Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.



STRATEGI PELAKSANAAN ( SP ) HALUSINASI

ASUHAN KEPERAWATAN HALUSINASI

No.

Pasien

Keluarga

SPIP

SPIk

1.

Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.

Mengidentifikasi isi halusinasi pasien

Menjelaskan pengertian halusinasi, tanda dan gejala halusinasi, jenis halusinasi serta proses terjadinya halusinasi

3.

Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien

Menjelaskan cara merawat pasien halusinasi

4.

Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien


5.

Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi pasien


6.

Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi


7.

Mengajarkan pasien menghardik halusinasi


8.

Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam kegiatan harian



SPIIP

SPIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan halusinasi

2.

Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain

Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi

3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian



SPIIIP

SPIIIk

1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

2.

Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara mlakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan di rumah)

Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian



SPIVP


1.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2.

Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur


3.

Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian